NGAWI , GARDAPUBLIK.CO – Budaya leluhur menjadi pondasi bangsa yang saat ini semakin tergerus perkembangan zaman, terutama di perkotaan.
Namun hal tersebut masih terjaga kelestariannya di Desa Puhti, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi.
Agus Purwanto, selaku Kades setempat mengatakan, jika kegiatan selamatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya bergotong royong.
“Bersih desa ini merupakan sebuah tradisi tahunan masyarakat Desa Puhti sebagai bentuk Bulu Bekti dari instropeksi diri sekaligus bersih-bersih desa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selamatan atau kenduri di 4 makam yakni, di Makam Rogo Loyo, Makam Josetro, Makam Cilik dan Makam Punthuk Ireng sebagai tempat untuk ritual memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Kegiatan kenduri atau nyadran ini sebenarnya merupakan kegiatan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar arwah nenek moyang dan para leluhur diampuni dosanya. Serta meminta keselamatan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu menurutnya lagi, selamatan juga bisa dimaknai sebagai wujud dari rasa hormat seluruh perangkat dan jajaran serta masyarakat desa pada umumnya. Artinya menghormati cikal bakal atau seseorang yang telah berfikir dan bertindak untuk mengawali kehidupan di Desa Puhti, melalui proses babad desa atau pembukaan pemukiman baru.
“Pada intinya kenduri ini untuk memohon keselamatan lahir batin dan semua yang baik-baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat Desa Puhti,” tegasnya.
Tak hanya itu, bersih desa ini merupakan pelestarian nilai-nilai budaya warisan leluhur yang adiluhung. Pasalnya, setiap ritual yang dilakukan memiliki simbol, makna dan hikmah kebaikan dengan tata cara seperti yang telah diajarkan oleh para sesepuh dan aji sepuh pendahulu Desa Puhti.
“Bagi masyarakat Desa Puhti kegiatan ini merupakan sebuah tradisi yang sudah melegenda. Sehingga pada setiap pelaksanaan kegiatannya selalu hadir untuk mengikuti prosesinya,” ungkap Kades.
Ia berharap, dengan tetap melestarikan budaya dan tradisi Jawa bisa menjadi contoh tata kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Serta mampu mengembalikan jati diri sebagai orang Jawa.
Karena menurutnya, menjunjung nilai-nilai luhur dapat menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang maha pencipta. (GP/Aay)






