Tradisi Nyadran Desa Danguk, Sebagai Penguat Identitas Nasional

NGAWI, GARDAPUBLIK.CO – Tradisi Nyadran, sebagai bagian dari budaya Jawa, memiliki peran penting dalam memperkuat identitas nasional di tengah arus modernisasi. Nyadran bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk melestarikan nilai-nilai luhur, mempererat hubungan sosial, dan menjaga keharmonisan dengan alam dan leluhur.

Nyadran menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya Jawa yang khas, yang mengajarkan nilai-nilai luhur seperti rasa hormat kepada leluhur, gotong royong, dan kebersamaan, yang relevan dalam konteks kehidupan modern yang seringkali individualistis. Dan tradisi ini menjadi penanda jati diri masyarakat yang terus dilestarikan di Desa Danguk, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi meskipun zaman berubah.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Danguk, Hadi Sudarno, ST menerangkan jika Tradisi Nyadran sebagai kegiatan budaya dan keagamaan yang dilakukan masyarakat Jawa untuk menghormati leluhur, kini menghadapi tantangan modernisasi. Meskipun Nyadran terus dilestarikan, pengaruh modernisasi dapat dilihat dari perubahan makna, prosesi, dan partisipasi masyarakat. Karenanya masyarakat harus mampu menghadapi tantangan tersebut untuk menjaga tradisi Nyadran agar tidak tergerus oleh pengaruh budaya asing.

Sudah menjadi hal yang pakem dan tidak dapat ditinggalkan di Desa Danguk, kegiatan Nyadran yang berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026 lalu juga menampilkan unsur budaya Langen Beksan. Kegiatan ini dilaksanakan pada siang harinya di Punden “Nolo Kerso” setelah pada pagi harinya diadakan kegiatan kenduri atau slamatan di wilayah Bangle Cangkring dan dilokasi sendang di wilayah Wagar sebagai sumber mata air yang memberikan penghidupan bagi warga masyarakat Desa Danguk selesai dilaksanakan.

Gelaran budaya Langen Beksan yang dilaksanakan dilokasi Punden “Nolo Kerso” juga dihadiri oleh Kepala Desa beserta Perangkat Desa Danguk, bebrapa Kades.dan perangkat desa lain, Wakaolsek Karangjati, Sekcam. Karangjati, Babinsa, Babinkamtibmas, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Adat, Masyarakat Desa Danguk serta sejumlah pegiat kesenian dan budaya. Kegiatan ini dilaksanakan dari pukul 14.00 wib hingga selesai sebagai acara puncak tradisi Nyadran atau Bersih Desa Danguk.

Tradisi Nyadran memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas nasional di tengah modernisasi. Dengan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung didalam-nya dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, tradisi ini dapat terus lestari dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia. (GP/Aay)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *